You are here: Home Tafsir Al-Barru SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 144

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 144

E-mail Print PDF

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

[Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa (berpaling ke Masjidil Haram) itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.]

[Indeed We see the turning of your face to heaven, so We shall surely turn you to a qiblah which you shall like; turn then your face towards the Sacred Mosque, and wherever you are, turn your face towards it, and those who have been given the Book most surely know that it is the truth from their Lord; and Allah is not at all heedless of what they do.]

1). Ketika Nabi mengikui peristiwa Isra’ Mi’raj, disebutkan bahwa perjalanan itu dimulai dari Masjidil Haram kemudian ke Masjidl Aqsha (17:1); baru setelah itu melanjutkan ke Sidratul Muntaha (53:14); terakhir, tentu kembali lagi ke Masjidil Haram. Peristiwa ini terjadi beberapa saat sebelum hijrah (dari Mekah ke Madinah), artinya sebelum Nabi pertama kali membangun masjid. Ketika masjid terbangun di Madinah dan Nabi memimpin salat berjamaah, arah kiblatnya ke Masjidil Aqsha (seperti rute perjalanan Isra’ Mi’raj tadi). Tetapi apa masalahnya di sini? Masjidil Haram dan Ka’bahnya—yang menjadi PUSAT tauhid sejak awal dan kemudian direnovasi oleh nabi Ibrahim dan Ismail—terpunggungi saat salat menghadap ke Baitul Maqdis karena letak geografis Madinah persis ada di tengah-tengah garis lurus yang menghubungkan Masjidil haram dan Masjidil Aqsha. Inilah yang menyebabkan Nabi selalu menengadah ke langit: قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء (qad narā taqalluba wajɦika fĭs-samā’i, sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit). Itu pengertian lahiriahnya.

Pengertian batiniahnya bisa terkuak apabila kata وَجْه (wajɦ) dan السَّمَاء (as-samā’) tidak kita artikan secara harafiah. Dan, memang, sejauh ini, sudah dua kali muncul kata وَجْه (wajɦ), namun belum ada satupun yang menggunakan makna lahiriah. Ayat 112: “(Tidak demikian) bahkan (yang benar ialah) siapa saja yang menyerahkan wajah-nya kepada Allah….” Dan ayat 115: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kalian menghadap di situlah wajah Allah….” Hal yang sama berkenaan dengan kata السَّمَاء (as-samā’). Di dalam al-Qur’an tidak selamanya merujuk kepada “langit” secara fisik. Coba, misalnya, baca kembali pengertian السَّمَاء (as-samā’) di ayat 29. Juga di ayat berikut ini: “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (32:5) Dari pengertian-pengertian itu maka kalimat قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاء [qad narā taqalluba wajɦika fĭs-samā’i, sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit] bisa kita maknai bahwasanya ‘wajah’ totalitas diri Nabi selalu menghadap atau ‘bertawajjuɦ’ ke puncak ‘langit’ ruhani, persis ketika dia melakukan perjalanan mi’raj ke Sidratul Muntaha, ‘menemui’ Allah di ‘Arasy-Nya di Baitul Makmur. Semua yang jamak atau plural di ‘bumi’ ini dilihatnya sebagai SATU ke-SATU-an. Semua yang Nabi lihat di ‘bumi’ ini adalah jelmaan wujud ‘langit’ yang Tunggal tak terbagi. ‘Wajah’ Nabi tidak pernah lagi terpancing dan tergoda untuk melihat ke ‘bumi’; karena, baginya, ‘bumi’ tidak punya wujud sejati. Keberadaan dan penampakan Nabi di ‘bumi’ semata karena cintanya kepada manusia dan karena mengemban amanah ilahi untuk menyelematkan mereka, dunia dan akhirat. Itu sebabnya “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri....” (33:6)

2). Selanjutnya, Allah berfirman: فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا (fa-lanuwalliyannaka qiblatan tardlāɦā, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai). Secara lahiriah artinya Allah akan segera merespon ‘keresahan’ Nabi karena memunggungi Baitullah tiap kali salat dengan memerintahkannya mengalihkan kiblat dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Secara batiniah, penggalan ayat ini menunjukkan bahwa Allah memberikan apa yang kita, hamba-Nya, inginkan. Karena Nabi sudah menetapkan Allah sebagai kiblat jiwanya, maka Allah pun menyambut inisiatif itu dengan tangan terbuka. Karena jiwa Nabi redla kepada Tuhannya (rādlĭyah) maka Allah pun redla kepadanya (mardliyah)—89:27-30. Firman-Nya: “Dan di antara manusia ada yang mengorbankan jiwanya (kepada kepentingan dunia) karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (2:207) Kemudian, “Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.” (20:109)

3). Respon itu dengan serta-merta menyusul: فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ (fa walli wajɦka syathral masjidil haram, maka palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram). Dengan ayat ini, resmilah kiblat berputar dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Juga sekaligus memberikan landasan hukum yang jelas—termaktub di dalam Kitab Suci samawi terakhir—bahwa berkiblat ke Baitullah adalah syariat agama, bukan budaya, bukan tradisi Arab lama. Berarti satu tugas yang Allah embankan kepada Nabi Ibrahim dan Ismail, sudah terwujud: “Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Sucikanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaaf, dan yang rukuk- sujud’.” (2:125) Di dalam tugas ini, sangat jelas bahwa diantara fungsi Baitullah ialah sebagai kiblat bagi orang-orang yang rukuk dan sujud (salat). Masjidil Haram sendiri artinya “tempat sujud yang penuh kemuliaan”. Yang berarti, secara ruhaniah, Allah menyimbolkan diri-Nya ‘ada’ di tempat itu, sehingga siapa saja yang telah redla menghadapkan seluruh totalitas dirinya kepada Allah, harus membuktikannya dengan menghadapkan wajah lahiriahnya ke Baitullah. Karena hanya dengan begitu yang bersangkutan menunjukkan dirinya bersujud. Persis seperti para malaikat yang diperintah bersujud ke Adam. Siapa yang bersujud ke Adam pada hakikatnya bersujud kepada Allah. Sebaliknya, siapa yang enggan bersujud kepadanya berarti juga keberatan bersujud kepada Allah. Dan itulah yang terjadi pada Iblis, sehingga dilaknat dan diusir dari wilayah Kerajaan Lagit dan turun ke bumi. Disini kita lihat betapa urgennya fungsi Ka’bah sebagai PUSAT bersujud kepada Allah. Dalam konteks inilah Hadis Nabi saw ini bisa kita maknai: “Shalat di masjidku lebih utama seribu kali dari shalat di masjid selainnya, kecuali Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama seratus ribu kali dari shalat di tempat selainnya.” (HR. Ibnu Majah no.1396)

4). Sebagai PUSAT, maka dimanapun posisinya dan dari manapun beranjaknya, harus menjadikan Masjidil Haram sebagai objek yang dituju: وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوِهَكُمْ شَطْرَهُ (wa haytsu mā kuntum fa wallŭ wujŭɦakum syathraɦ, dan di mana saja kalian berada, palingkanlah mukamu ke arahnya). Anak kalimat حَيْثُ مَا كُنتُمْ (haytsu mā kuntum, di mana saja kalian berada) bisa diartikan posisi geografis: di daerah atau di wilihayah, atau di negara manapun kita berada arah dan orientasi ibadah kita tetap harus ke Masjidil Haram, yang Allah tetapkan sebagai PUSAT ibadah. Tapi bisa juga diartikan sebagai posisi kelompok atau mazhab: di kelompok, atau di aliran, atu di mazhab manapun kita berada, semua harus menghadapkan وَجْه (wajɦ)-nya, menghadapkan totalitas diri dan jati dirinya ke Masjidil haram, yang Allah tetapkan sebagai PUSAT tawajjuɦ. Dan bukan ke ibu kota-ibu kota negara besar lainnya di dunia ini, apalagi kalau negara itu jelas-jelas berkarakter imperialistik. Semua kelompok dan aliran harus menyatukan ketaatannya kepada Ahli Baitullah yang Allah pilih dan tunjuk sebagaimana Masjidil Haram itu dipilih dan ditunjuk langsung oleh Allah. Adalah ganjil manakala bendanya atau tempat yang menjadai PUSAT dipilih dan ditunjuk—dan karenanya menjadi syariat, menjadi syarat mutlak salat dan tawaf—sementara sosok pemegang amanah dan pelaksana risalah dan syariat itu justru dipilih oleh manusia. Kalau benar begitu (dipilih oleh manusia), maka disinilah sumber petaka sosial-politik umat Islam, karena niscaya negara-negara besar yg imperialistik, penguasa-penguasa yang mata akhiratnya buta, akan turut campur di dalam pemilihan itu, walaupun hanya di belakang layar. Bahkan sangat mungkin, Masjidil Haram sendiri berada di bawah pengaruh dan kendali mereka. Inilah yang membuat barisan umat Islam koncar-kacir, tunggang-langgang, tak berdaya, dan hanya menjadi obyek pembunuhan dari hari ke hari; nyawa mereka tidak berharga sama sekali. Perhatikanlah dengan saksama apa yang terjadi di negara-negara atau di wilayah-wilayah Muslim. Nyawa umat islam yang telah menjadi korban bukan lagi hitungan ribu tetapi telah mencapai angka jutaan, sementara lembaga terbesar seperti PBB pun tak menganggapnya sebagai pelanggaran hak asasi manusia; negara-negara yang jelas-jelas bertanggung jawab terhadap kematian mereka pun tak dianggapnya sebagai pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan. Bagi mereka, ikan-ikan paus dan hewan-hewan langka lebih pantas dilindungi ketimbang nyawa umat Islam. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kalian memahaminya.” (3:118)

5). Dan sungguh komunitas-komunitas yang di tangannya ada Kitab Suci samawi (dari kalangan orang-orang Nashrani dan Yahudi) tahu persis ihwal semua ini. Makanya, para penguasa imperialistik mereka berusaha sekuat tenaga untuk ‘menguasai’ Masjidil Haram, merusakkan nilai-nilainya dan mendeviasi umat Islam daripadanya: وَإِنَّ الَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ [wa innal-ladzĭna ŭtŭl-kitāba laya’lamŭna annaɦul-haqqu mir-rabbiɦim, dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Kitab Suci (Taurat dan Injil) benar-benar mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya]. Untuk memuluskan terlaksananya rencana-rencana busuknya, mereka tak sgan-segan ‘memelihara’ dan ‘membentuk’ kelompok-kelompok di dalam tubuh umat Islam. Mereka menaikkan dan memelihara pemimpin-pemimpin robot yang remote control-nya mereka pegang. Di depan rakyatnya, para pemimpin seperti ini menggunakan baju keagamaan, bertutur kata dengan bahasa religius, sesekali ditingkahi dengan semangat jihad yang meletup-letup. Tapi di belakang layar, mereka cipaka-cipiki, tos-tosan, dan tertawa terbahak-bahak bersama dengan majikan-majikan imperialistik mereka, seraya membagi-bagi harta ‘rampasan perang’ terhadap rakyatnya sendiri. “Beginilah kalian, kalian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukaimu, dan kalian beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kalian, mereka berkata: ‘Kami beriman’; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadapmu. Katakanlah (kepada mereka): ‘Matilah kalian karena kemarahanmu itu’. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” (3:119)

6). Tetapi, dari sisi umat Islam sendiri, terutama kalangan ulama dan kiyainya, tidak perlu berkecil hati. Tidak perlu memperlebar masalah dengan mempertajam perseteruan di antara mereka, di antara kelompok-kelompok, aliran-aliran, dan mazhab-mazhab. Karena kalau terjadi perseteruan dan perpecahan, maka itulah yang mereka (penguasa imperialistik) inginkan. Maka setiap pihak seharusnya menyikapi perbedaan-perbedaan itu dengan penuh hikmah dan kedewasaan. Karena, Allah sendiri selalu ikut di dalam semua kejadian ini: وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (wa māllāɦu bi ghāfilin ‘ammā ya’malŭn, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan). Tugas kita hanyalah berniat dan berbuat semaksimal yang kita mampu untuk mengalahkan kejahatan sistematis itu, juga dengan cara yang sistematis. Selanjutnya adalah ‘pekerjaan’ Allah. Karena toh Allah telah menjanjikan, sepertimana ketika “Musa berkata kepada kaumnya: ‘Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Alla, (akan) dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa’.” (7:128)

AMALAN PRAKTIS

Masjidil Haram artinya tempat sujud yang penuh kemuliaan. Artinya, kalau semua manusia, paling tidak umat Islam, menyatukan sujudnya ke sana, secara berjamaah, dipimpin seorang Imam, niscaya kehidupannya akan dipenuhi dengan kemuliaan dan terbebas dari penderitaan: fiddunya hasanah wa fil ākhirati hasanah.

 

New

Main Menu

Report

About Us

Latest News