You are here: Home Tafsir Al-Barru SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 45

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 45

E-mail Print PDF

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

[Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (dengan mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`.]

[And seek assistance through patience and prayer, and most surely it is a hard thing except for the humble ones.]

1). Waw ‘athaf di awal kalimat menunjukkan bahwa ayat ini masih bagian dari seruan Allah di ayat 40. Berarti sekarang adalah seruan yang kesepuluh: وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ (wasta’ĭynuw bis-shabri was-shalāh, dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (dengan mengerjakan) shalat). Kata اسْتَعِينُواْ (ista’ĭynuw, mintalah pertolongan) adalah kata kerja perintah untuk melakukan apa yang disebut isti’ānah (permintaan). Kenapa tiba-tiba ada perintah ini, kaitannya dengan seruan-seruan sebelumnya? Satu, pelanggaran terhadap seruan-seruan dan larangan-larangan sebelumnya terjadi karena Bani Israil telah kehilangan substansi hubungannya dengan Tuhannya. Akibatnya, agama juga tinggal sebagai baju, sebagai simbol belaka. Agama telah kehilangan spirit atau ruhnya. Agama telah kehilangan hakikat dan substansinya. Dua, telah dibahas di Surat al-Fatihah ayat 5 poin 4 dan 5 bahwa isti’ānah (permintaan) itu ialah permintan dalam pengertian hakikat sebagai lawan dari permintaan dalam pengertian majazi. Permintaan dalam pengertian hakikat hanya mungkin terjadi manakala hubungan dengan Tuhan juga masih punya hakikat.

Karena seruan-seruan dan larangan-larangan ini sudah termaktubkan dalam al-Qur’an, Kitab Suci umat Islam, maka secara otomatis tidak lagi terikat pada Bani Israil saja, tapi juga berlaku buat umat Islam. Maka seruan ber-isti’ānah inilah yang kelihatannya terimplementasikan di dalam Surat al-Fatihah yang wajib dibaca oleh kita umat Islam tiap kali melaksanakan salat. Sehingga yang terfahami dari urutan pembahasan sejauh ini ialah bahwa kandungan isti’ānah kita pun sama dengan kandungan isti’ānah yang diberlakukan kepada Bani Israil. Bisa dimengerti kenapa menggunakan perintah isti’ānah, yakni karena semua seruan dan larangan tersebut adalah dalam rangka membangun kembali hakikat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

2). Permintaan dalam pengertian isti’ānah tidak bisa terjadi begitu saja tanpa memenuhi syarat-syarat pendahuluannya. Itu sebabnya huruf بِ (ba’ yang dibaca kasrah, dengan harakat bawah,  atau dibaca bi) di depan atau sebelum kata sabar dan salat, disebut ba’ isti’ānah. Yaitu huruf ba’ yang berfungsi sebagai alat (atau syarat) untuk melakukan suatu perbuatan. Di ayat ini, syarat pertama-nya ialah: SABAR. Ini dapat dimengerti karena sabar ini merupakan kualitas jiwa seorang beriman yang tak pernah ‘berpisah’ dengan Tuhannya. Perhatikan ayat lain yang mirip dengan ayat ini: “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (dengan mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah (senantiasa) bersama (dengan) orang-orang yang sabar.” (2:153). Di akhir ayat ini dengan tegas disebutkan: Sesungguhnya Allah (senantiasa) bersama (dengan) orang-orang yang sabar. Kata “bersama” di sini tentu bukan dalam pengertiannya yang generik, karena secara generik Allah memang tidak pernah berpisah dengan makhluk-Nya. Karena hal itu mustahil bagi-Nya. Syarat kedua: SALAT. Kapanpun manusia boleh berdoa atau meminta kepada Allah, tetapi permintaan atau isti’ānah di dalam salat jauh lebih tinggi nilainya karena orang yang sedang salat adalah orang yang sedang masuk ke-haribaan-Nya. Maka di dalam salat itu seorang hamba ber-isti’ānah pada saat membaca Surat al-Fatihah. Maka orang yang tidak melaksanakan kewajiban salatnya adalah orang yang tidak pernah merasa butuh ber-isti’ānah kepada Tuhannya. Dan orang yang tidak ber-isti’ānah kepada Tuhannya adalah orang yang sudah merasa mampu memenuhi seluruh kebutuhan-kebutahannya, dan artinya sudah merasa tidak butuh lagi di luar dirinya. Dan inilah hakikat kesombongan sejati.

3). Secara amaliah, salat itu adalah perbuatan yang sangat gampang. Jauh lebih gampang dari olah raga manapun. Dari sisi waktu juga begitu, jauh lebih singkat dari latihan fisik manapun. Tetapi di ayat ini, Allah malahan mempertegas bahwa salat itu berat: وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ [wa innaɦā lakabĭyratun, Dan sesungguhnya (salat) yang demikian itu sungguh berat]. Ini menunjukkan bahwa salat yang Allah maksud di sini bukan salat yang sekedar menggugurkan kewajiban, atau salat yang diniatkan untuk memenuhi hasrat-hasrat pribadi pelakunya. Kata “berat” di sini pasti bukan dalam pengertian amalan fisik dan hitungan waktunya. Kata “berat” di sini pasti dalam pengertian kualitas dan bobot atau nilai yang dikandungnya. “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (2:143)  Salat yang “berat” adalah salat yang disadari sebagai perbuatan memperbaharui kembali komitmen-komitmen di hadapan Allah untuk tetap berada dibelakang figur-figur an’amta ‘alayhim (orang-orang yang telah Allah beri nikmat agama kepadanya) dari kalangan nabi-nabi, shiddiiqiin, syuhāda’, dan orang-orang saleh. Yaitu komitmen untuk tetap berada di wilayah Khalifah Ilahi. Yaitu wilayah yang justru telah ditentang bahkan diruntuhkan oleh Bani Israil, dulu maupun sekarang. Jadi salat yang “berat” adalah salat yang bisa menjadi pembeda antara “siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot.

4). Tetapi Allah sendiri kemudian membuat pengecualian. Bahwa salat yang “berat” itu tidak akan terjadi pada orang-orang yang khusyu’. Apa yang dimaksud salat yang khusyu’ itu? Insya Allah akan dibahas pada ayat selanjutnya. Yang perlu di ketahui sekarang ialah bahwa salat khusyu’ itu merupakan suatu nilai atau bobot yang mengindikasikan keberuntungan, kemenangan, dan kebahagian bagi seorang mu’min. “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya.” (23:1-2)

AMALAN PRAKTIS

Pernakah Anda merasa tidak berdaya lagi dalam menghadapi berbagai masalah berat yang menimpa? Kalau pernah atau bahkan sering, ketahuilah bahwa problem seperti itulah yang menyeret semua pelaku bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Orang akan bunuh diri apabila merasa sudah kehilangan seluruh harapan (hopeless) dalam hidupnya. Kalau Anda seorang beriman, camkanlah bahwa harapan hidup itu tidak pernah berakhir. Karena Allah, Tuhan yang Anda imani itu, adalah puncak dari segala harapan. Maka jika Anda diterpa masalah yang teramat berat, datanglah kepada-Nya dengan segala kerendahan jiwa meminta dalam keadaan SABAR dan SALAT!!!

 

New

Main Menu

Report

About Us

Latest News